Alumni Jerman Kehilangan Salah Satu Rekan Terbaiknya

Ada puluhan ribu warga Indonesia de-facto Alumni Jerman yang tersebar di seluruh Dunia. Walaupun belum ada 2000an yang terdaftar dalam Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ), namun tidak dapat dipungkiri bahwa rekan kita Ivan Abubakar Hadar adalah salah satu anak bangsa terbaik Indonesia. Ivan kini telah tiada, meninggalkan kita di sebuah rumah sakit di Berlin pada tanggal 13 Juni 2015, setelah perlawanannya terhadap penyakit jantung usai.

Ivan A Hadar Menatap Masa Depan Indonesia Jauh Kedepan
Ivan A Hadar Menatap Masa Depan Indonesia Jauh Kedepan

Rekaman media yang mengiringi berita duka, mengenang kiprah Ivan semasa hidupnya, penuh dengan perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik. Pria kelahiran Ternate 27 Agustus 1951 silam, dikenal sebagai seorang intelektual, doktor sosiologi dari Universitas Teknik Berlin, dan sebelumnya juga pernah mengenyam pendidikan arsitektur dan perencanaan kota di ibu kota Jerman yang sama.

Ivan maracik arsitektur perencanaan perkotaan dengan ilmu sosiologi untuk menguasai kehidupan manusia. Ramuan itu digunakan untuk menyampaikan keahliannya dalam memahami sumber daya manusia, merumuskan tujuan pembangunan milenium (MDGs), strategi pengentasan kemiskinan, dan banyak masalah lainnya, termasuk strategi perdamaian dan resolusi konflik yang terjadi disekitarnya.

Ruang yang sempit untuk perbedaan pendapat yang dialami selama hidupnya di Indonesia, menurut Ivan kerap dijadikan ajang untuk bermusuhan, sekaligus merupakan sebuah tantangan yang harus kita hadapi bersama. Ivan telah menyampaikan pengalaman kita (sesama @AlumniJerman) saat berada di Eropa, dimana orang-orang bisa saja berbeda dari segi pandangan, opini, atau ideologi, tetapi secara manusiawi tetapi bersahabat.

Fenomena inilah (menurut @islamindonesia1) yang mendorong Ivan bersama sejumlah rekan-rekannya untuk membentuk Indonesian Institute for Democracy Education (Indonesian IDe), yang telah berdiri sejak 1999. Tujuan yang ingin dicapainya adalah penyebarluasan sebuah pemahaman bahwa konflik merupakan bagian yang koheren dalam kehidupan manusia, namun ia bisa dikelola secara produktif.

Mengenang kepergian Ivan, rekan-rekan dari Perhimpunan Alumni Jerman mengekspresikan simpati yang sangat dalam, juga berupa tulisan sebuah puisi yang disampaikan oleh rekan PAJ Saiful Huda Ems (SHE):

Teramat sempit dunia untuk kau tinggali, kemulian akhlaq budi pekertimu tidaklah lagi mereka cari.

Engkau menulis dalam sunyi, melukis keterasingan pikiranmu dengan jari jemari jiwamu sendiri.

Badai pemberontakan yang bergemuruh dalam pikiranmu kau tahan, lalu kau pilih lentur dan pasrah pada getar nurani kesabaranmu yang menyejukkan.

Tiada pernah sekelebat amarah membayangi wajahmu, senyum tulus keceriaan menjadi pintu pembuka halus tutur katamu.

Teramat sempit dunia untuk kau tinggali, kejujuran dan keadilan bukanlah yang mereka cari. Kaupun menghilang dalam hening, lalu keluar dan keluar lagi untuk menebar kasih.

Teramat sempit dunia untuk kau tinggali, karena kebajikan adalah semesta dan keteladanan adalah surga. Selamat jalan menuju Taman Keabadian, Mas Ivan Al Hadar…

Jejakmu adalah ketukan pengingatku…

Pesan rekan Ivan @saiful_haq : RIP Bang Ivan Hadar, senang pernah bekerja bersamamu dalam beberapa penggalan waktu. Damai disana Bang!
Pesan rekan Ivan @saiful_haq : RIP Bang Ivan Hadar, senang pernah bekerja bersamamu dalam beberapa penggalan waktu. Damai disana Bang!

Selamat jalan bang Ivan, semangatmu masih hidup bersama kami.

Unduh Edisi PDF (280KB)

Iklan